Home Publikasi Berita Detail Berita

Detail Berita

Grease Trap, Sering Terlupa Tetapi Jadi Kunci

Admin Web OPD
Berita
22 Juli 2026 08:30:32

Image Berita


Kulon Progo - 22 Juli 2026. Tidak terasa, salah satu program nasional yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilaksanakan hampir di seluruh wilayah Indonesia sudah berjalan lebih dari satu tahun. Bukan tanpa masalah, program baru dengan skala besar ini memiliki dampak terhadap lingkungan yang perlu ditangani dengan baik dan sesuai dengan standar teknologi pengolahan limbah. Produk MBG yaitu makanan siap santap yang sudah diolah dan dimasak di dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang didistribusikan langsung kepada penerima manfaat (anak sekolah, balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan lansia). Selain proses pengolahan pangan pada dapur SPPG, proses pengelolaan limbah yang dihasilkan juga menjadi faktor kunci bagi seluruh pengelola SPPG, mengingat limbah organik dari proses pengolahan pangan/makanan yang jumlahnya cukup besar. Limbah organik yang dihasilkan oleh SPPG terbagi dalam dua jenis yaitu limbah organik padat (sisa-sisa potongan bahan makanan dan sisa-sisa makanan dari ompreng) serta limbah organik cair (air limbah dari proses masak, pencucian bahan makanan, pencucian peralatan masak, dan pencucian ompreng).

Berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kulon Progo melalui tim lapangan Bidang Pengendalian Lingkungan Hidup, sebagian besar dapur SPPG yang berada di wilayah Kabupaten Kulon Progo sudah melakukan pengelolaan limbah organik yang dihasilkan: limbah organik padat dikerjasamakan dengan masayarakat yang memiliki ternak (yang kemudian dimanfaatkan masyarakat untuk pakan ternak), sedangkan limbah organik cair dikelola dengan unit pengolahan air limbah atau yang biasa dikenal dengan IPAL (instalasi pengolahan air limbah). Salah satu bagian penting yang mendukung fungsi IPAL adalah bak grease trap (penangkap minyak dan lemak). Grease trap berfungsi sebagai unit pengolahan primer untuk menyisihkan/memisahkan komponen minyak, lemak, serta partikel padat dari air limbah sebelum masuk ke sistem IPAL. Dengan adanya grease trap, dapat mengurangi beban limbah pada sistem IPAL sehingga proses pengolahan menjadi lebih efisien, selain itu juga untuk menjaga kelancaran aliran air limbah sehingga IPAL tidak mudah rusak akibat penumpukan lemak.

Ada banyak bentuk atau jenis grease trap yang dapat diterapkan oleh SPPG maupun Usaha dan/atau Kegiatan lain di bidang industri makanan. Unit grease trap berukuran kecil yang biasa terpasang pada zink pencucian dapat berfungsi optimal apabila diterapkan untuk pencucian skala kecil-menengah. Sedangkan, untuk unit grease trap utama (biasanya terpasang sebelum masuk ke proses pengolahan pada IPAL) wajib disediakan/dipasang. Hal ini dimaksudkan agar air limbah yang dihasilkan dari seluruh proses kegiatan di SPPG dapat diolah secara optimal. Sisa-sisa minyak dan lemak yang ikut bersama aliran air limbah ditampung pada bak grease trap yang kemudian terjadi proses pemisahan minyak-lemak dan air. Minyak-lemak terapung pada permukaan air, dan air limbah mengalir ke bak equalisasi sebelum masuk ke proses pengolahan utama pada IPAL. Tidak cukup sampai di situ, sisa minyak-lemak yang terapung wajib dibersihkan/diangkat secara rutin setiap hari untuk menghindari sumbatan pada saluran maupun lolosnya minyak-lemak ke bak equalisasi. Meski sering dilupakan atau dianggap tidak penting, tetapi grease trap memegang kunci awal yang sangat penting dalam proses pengolahan air limbah. Dan sebagai pamungkasnya, setelah melalui proses pengolahan dengan metode anaerob-aerob, sedimentasi, filtrasi, dan desinfeksi; untuk mengetahui apakah hasil olahan air limbah telah aman bagi lingkungan, penanggung jawab Usaha dan/atau Kegiatan dapat melakukan pengujian kualitas air limbah pada laboratorium lingkungan yang telah terakreditasi. 

Source: Bidang Pengendalian Lingkungan Hidup

WhatsApp Chat