PUSdEP Universitas Sanata Dharma Tertarik Dengan Pengelolaan Sampah Di Kulon Progo

WARTA DLH, WATES - Pengelolaan sampah di Kabupaten Kulon Progo menjadi objek penelitian menarik bagi kalangan Perguruan Tinggi. Salah satunya, tim Pusat Sejarah dan Etika Politik (PUSdEP) Magister Kajian Budaya, Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma (USD).

Menurut anggota Tim PUSdEP USD Emmanuel Kurniawan, S.T.,M.Hum, tim nya melakukan penelitian mengenai gagasan, kebijakan, dan gerakan sosial dalam pengelolaan sampah di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Berkenaan dengan penelitian tersebut, pihaknya mengajukan permohonan wawancara ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kulon Progo sebagai perwakilan lembaga yang memiliki peran besar dalam pengelolaan sampah di Kulon Progo.

Berdasarkan hasil penelusuran di laman DLH, tim nya berhipotesis awal bahwa kebijakan pengelolaan persampahan di Kulon Progo berbeda dengan Kabupaten/Kota lainnya di wilayah DIY. 

“Kami beranggapan di Kulon Progo pengelolaan sampahnya berbeda karena ada pendekatan budaya. Oleh karena itu, untuk menggali lebih banyak informasi kami melakukan kunjungan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kulon Progo,” ujarnya di sela-sela kunjungan, Kamis (8/10/2020).

Berdiskusi langsung dengan Kepala Dinas Drs. Sumarsana, M.Si, tim PUSdEP USD melakukan wawancara secara tatap muka.

Sumarsana menjelaskan, pengelolaan sampah di Kabupaten Kulon Progo dilakukan oleh 2 (dua) Dinas yaitu Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) dan Dinas Lingkungan Hidup.

“Persampahan diampu 2 Dinas, bisa dikatakan ini satu-satunya di Indonesia. DPUPKP fokus pada penanganan sampah. Sedangkan, DLH fokus pada pengurangan sampah,” jelasnya.

DLH, lanjut Sumarsana, mencanangkan program Siaga Berjibaku Melawan Sampah Kulon Progo (SIBAKU) untuk mengurangi timbulan sampah yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Dengan SIBAKU, masyarakat diharapkan mengelola sampah yang dihasilkan sehari-hari.

“Menekan jumlah sampah yang dikirim ke TPA, sampah diusahakan bisa habis di tingkat rumah tangga,” kata Sumarsana.

Selain itu, Pemerintah Kalurahan yang ada di Kulon Progo dengan kewenangan dan Dana Desa nya didorong aktif hadir dan terlibat untuk menangani sampah di wilayah masing-masing.

“Menuntaskan sampah, DLH berupaya keras agar 3 R (Reduce, Reuse, Recycle) menjadi sebuah budaya postif di kalangan masyarakat. Setiap Kalurahan minimal agar dibentuk 1 Bank Sampah, yang ke depan akan dikembangkan menjadi 1 Pedukuhan 1 Bank Sampah,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH Kulon Progo Tristijanti, S.IP.,M.Si menuturkan, terdapat 2 Kapanewon di Kabupaten Kulon Progo yang mempunyai Bank Sampah terbanyak, yaitu Kapanewon Panjatan dan Kapanewon Pengasih.

Bahkan di Kalurahan Sendangsari Kapanewon Pengasih, jumlah Bank Sampah melebihi jumlah Pedukuhan yang ada.

“Di Sendangsari, Bank Sampahnya sebanyak 14 unit yang tersebar di 10 Pedukuhan. Masyarakat meyakini sampah bernilai ekonomi sehingga mendorong niat mengelolanya melalui Bank Sampah,” tutur Tristi yang mendampingi Kepala Dinas dalam menerima kunjungan.

Selang 2 jam berdiskusi, tim PUSdEP Universitas Sanata Dharma yang terdiri dari Yustinus Tri Subagya, M.A.,Ph.D, Clara Victoria Padmasari, S.Sn, Georgius Benardi, S.S.,M.Hum, dan Emmanuel Kurniawan, S.T.,M.Hum meninjau penanganan sampah di TPA Banyuroto yang dikelola oleh UPTD Persampahan Air Limbah dan Pertamanan DPUPKP Kabupaten Kulon Progo. (Prd)