Dua Relawan Ini Mengenalkan Eco Enzyme Dan Manfaatnya

WARTA DLH, WATES – Dua orang relawan Eco Enzyme Nusantara melakukan sosialisasi di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kulon Progo, Senin (14/9/2020).

Mereka adalah Atiek Mariati dan Andre Moedanton, relawan Eco Enzyme yang bertempat tinggal di Kapanewon Kalibawang.

Atiek menerangkan Eco Enzyme adalah cairan alam serbaguna yang merupakan hasil fermentasi dari gula, sisa buah/sayuran dan air, dengan perbandingan 1 : 3 : 10.

“Eco-Enzyme dikembangkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong, pendiri Asosiasi Pertanian Organik Thailand, yang melakukan penelitian sejak tahun 1980-an dan kemudian diperkenalkan secara lebih luas oleh Dr. Joean Oon, seorang peneliti Naturopathy dari Penang, Malaysia,” terangnya.

Pembuatan Eco Enzyme berlatar belakang, pertama 70% sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah adalah sampah organik. Dimana sampah organik di TPA akan menimbulkan bau tidak sedap, mengurangi tingkat daur ulang plastik, serta memberi resiko terjadinya ledakan akibat gas metana.

“Dengan membuat Eco Enzyme, kita telah mengolah sebagian besar sampah kita dan mengurangi beban TPA,” ungkapnya.

Kedua, lanjut Atiek, produk-produk yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagian besar mengandung bahan kimia sintetis yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Kemasan dari produk-produk tersebut juga mencemari lingkungan, karena hanya sebagian kecil saja yang didaur ulang.

“Eco Enzyme adalah alternatif alami dari bahan kimia sintetis berbahaya di rumah. Dengan membuat Eco Enzyme, kita mengurangi produksi limbah kimia sintetis dan sampah plastik sisa kemasan produk rumah tangga pabrikan,” imbuhnya.

Lama pembuatan Eco Enzyme, kata Atiek, adalah 3 bulan di wilayah tropis, dan 6 bulan di sub-tropis. Hasil akhir berupa cairan berwarna kecoklatan dengan aroma asam segar. Warna Eco Enzyme bervariasi dari coklat muda hingga coklat tua, bergantung pada jenis sisa buah/sayuran dan jenis gula yang digunakan.

Eco Enzyme yang baik ciri-cirinya, antara lain memiliki tingkat keasaman ( pH) di bawah 4,0 dan beraroma asam segar khas fermentasi.

“Eco Enzyme banyak sekali manfaatnya. Kita bisa menggunakan sebagai karbol dan pembersih alami, sabun cair alami, penjernih udara alami, pembersih rumah tangga alami, dan hand sanitizer alami,” katanya.

Manfaat medis, Eco Enzyme mampu melawan parasit dan kuman yang menyebabkan infeksi dalam jantung, keputihan, radang otak, radang paru-paru, peradangan sendi, Infeksi kulit dan lain lain.

“Untuk keperluan detoks tubuh, mula-mula larutkan Eco Enzyme ke dalam air hangat bersuhu 30 – 40 derajat Celcius dengan perbandingan 30 ml : 1 baskom/ember air. Setelah itu rendam kaki ke dalam wadah tadi selama 20 – 30 menit. Tutup seluruh kaki dengan handuk. Manfaatnya akan mengurangi atau menghilangkan gejala bau kaki, tangan, dan kaki pecah-pecah,” jelasnya.

Atiek menegaskan, tujuan utama pembuatan Eco Enzyme adalah menyelamatkan Bumi. Beribu manfaat dari Eco Enzyme hanyalah bonus.

“Manfaat yang sebenarnya adalah kelestarian Bumi bagi anak cucu kita. Mari kita lakukan dengan hati yang tulus,” ajaknya.

Kepala DLH Kulon Progo Drs. Sumarsana, M.Si menyambut baik gagasan kedua relawan Eco Enzyme tersebut, sehingga kelak dapat membantu mengatasi permasalahan sampah, khususnya sampah organik.

“Niatnya kan sama, yaitu mewariskan alam yang indah bagi generasi yang akan datang. Semoga menjadi salah satu mitra baik bagi DLH untuk bersama-sama mewujudkan lingkungan Kulon Progo yang bersih, sehat, dan nyaman,” harap Sumarsana. (Prd)