Mengelola Sampah, Sebaiknya Dengan Mengubah Paradigma Lebih Dulu

WARTA DLH, WATES - Sampah merupakan permasalahan lingkungan hidup yang serius. Penanganan sampah secara konvensional belum dapat mengendalikan sampah yang ada. Imbasnya, sampah yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan berbagai permasalahan kesehatan.

Mulai dari penyebaran penyakit, polusi bau dari sampah busuk, pencemaran air akibat pembuangan sampah ke sungai dan merembesnya air lindi dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) ke permukiman dan sumber air penduduk, hingga pencemaran udara akibat pembakaran sampah.

“Paradigma lama pengelolaan sampah “Kumpul – Angkut – Buang” ke TPA yang bertumpu pada pendekatan penanganan akhir harus ditinggalkan. Segera beralih ke paradigma baru, yang memandang sampah sebagai sumber daya yang bernilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan. Contohnya untuk energi, kompos, dan bahan baku industri,” tutur Kepala Seksi Persampahan dan Pengembangan Kapasitas Bidang Tata Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kulon Progo Herri Setyowati, S.H, Senin (20/4).

Pengelolaan sampah sebaiknya dilakukan dengan pendekatan yang komprehensif dari hulu hingga hilir. Sejak sebelum dihasilkannya suatu produk yang berpotensi menjadi sampah, sampai sesudah digunakannya produk sehingga menjadi sampah.

“Paradigma penanganan sampah yang relatif lebih bijak adalah “Kumpul – Pilah – Olah – Angkut – Buang”. Sampah yang dibuang adalah sampah yang benar-benar sudah tidak dapat lagi untuk dimanfaatkan dan tak lagi bernilai ekonomi,” tegasnya.

Pengelolaan sampah dengan paradigma baru tersebut dapat dilakukan dengan kegiatan pengurangan dan penanganan sampah. Pengurangan sampah meliputi kegiatan 3 R yaitu pembatasan (Reduce), penggunaan kembali (Reuse), dan pendaur ulang-an (Recycle). Sedangkan, kegiatan penanganan sampah meliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan pemrosesan akhir. (Prd)