Dualisme Sampah : Menjadi Sumber Masalah Dan Peluang Usaha

WARTA DLH, WATES – Perspektif yang berbeda menyebabkan persepsi setiap orang terhadap sampah tidak sama. Pegiat dan Pemerhati Lingkungan Jejaring Pengelola Sampah Mandiri (JPSM) Merti Bawana Asri Kulon Progo Ir. Saptono Tanjung mengemukakan keberadaan sampah dapat menimbulkan sejumlah persoalan, namun di sisi lain bisa menjadi peluang usaha.

“Sampah menjadi masalah karena merupakan ancaman yang potensial sehingga mengganggu kehidupan dan penghidupan bagi makhluk hidup. Namun demikian, seiring pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), sampah juga menjadi peluang usaha. Misalnya, sebagai bahan baku industri, kerajinan, dan lainnya” kata Saptono pada Sosialisasi Pengelolaan Sampah di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kulon Progo, Selasa (25/2).

Ia menambahkan sampah yang notabene bencana terhadap manusia ternyata nilai tambahnya dihargai dan memadai sesuai dengan pemanfaatan. Sampah jenis anorganik terurai (mengalami pembusukan) dalam jangka waktu lama sehingga dapat diperlakukan dengan norma Reduce Reuse Recycle (3 R). Sedangkan, sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai bahan penyubur tanah/media atau produk lain tergantung olah IPTEK yang dimiliki manusia.

“Setiap orang adalah penghasil sampah, tetapi tidak setiap orang mau ketempatan sampah. Perlu kerja keras dan kerja cerdas memotivasi masyarakat untuk berbuat kepada lingkungan khususnya dalam pengelolaan sampah baik organik maupun anorganik. Mengolah sampah jangan setengah hati” tegas tokoh peraih Kalpataru Kategori Pembina Lingkungan Tahun 2017 tersebut.

Sedang Tokoh Perintis Bank Sampah Dhuawar Sejahtera Sugiyanto mengatakan pengelolaan sampah di masyarakat erat kaitannya dengan eksistensi bank sampah di wilayah bersangkutan. Menurutnya, bank sampah memiliki peran signifikan dalam menangkap peluang usaha guna mengatasi persoalan sampah.

“Selain meningkatkan taraf ekonomi masyarakat dari jual beli sampah, bank sampah juga andil mengedukasi masyarakat tentang pengelolaan sampah organik dan anorganik” ujarnya.

Sugiyanto menyatakan pentingnya optimalisasi fungsi bank sampah dan menumbuhkan bank sampah baru di wilayah-wilayah yang belum ada. Eksistensi bank sampah diharapkan menjadi agen perubahan di lingkungan masyarakat sehingga mampu mengubah cara berpikir dan cara pandang terhadap sampah.

Sampah saat ini, diungkapkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kulon Progo Arif Prastowo, S.Sos.,M.Si telah berkembang dari isu lokal ke isu global. Penanganan sampah tidak bisa hanya dengan bergantung pada sistem pemerintah. Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) menjadi cepat penuh karena kesadaran pengelolaan sampah masih rendah.

“Ini problem kita semua dan perlu diselesaikan bersama. Sebagai langkah awal mari lakukan pemilahan mulai dari rumah tangga, kemudian Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dan bank sampah dapat diberdayakan dalam pengolahan sampah” ajaknya. (Prd)