Ubah Air Limbah Batik di Kulon Progo Jadi Tidak Berbahaya Lagi, Ternyata Ini Alatnya

LENDAH, dlh.kulonprogokab.go.id- Pencemaran akibat limbah batik akan menimbulkan efek berantai. Limbah batik yang dibuang sembarangan apalagi sampai masuk ke sungai akan berdampak luas. Dari penurunan kesehatan, rusaknya biota sungai, hingga kepunahan biota laut.

“Dampaknya itu penyakit, terutama paling banyak penyakit kulit. Jika meresap ke sumur dan kemudian airnya dikonsumsi maka berpotensi menimbulkan kanker.  Kalau dibuang ke sungai tentu akan merusak biota. Ikan, ganggang, dan organisme lainnya dapat mati . Jika sudah meracuni sungai, larinya akan ke laut. Kalau itu terjadi maka jumlah populasi ikan yang ada di laut dapat turun drastis. Biota tidak bisa hidup dalam lingkungan yang tercemar” ungkap Dr. Roto, Peneliti di Laboratorium Kimia Analitik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Menurutnya, zat warna dalam limbah batik termasuk memerlukan waktu lama untuk terdegradasi di alam, bahkan mencapai ratusan tahun. Oleh sebab itu, limbah batik wajib ditangani secara baik dalam kerangka penyelamatan lingkungan. Limbah batik secara aturan lingkungan hidup tidak diperkenankan dibuang ke aliran air sungai, selokan maupun saluran sejenis. Sebelum dibuang  harus diproses terlebih dahulu sampai memenuhi baku mutu lingkungan.

“Berlatarbelakang demikian, kami tergabung dalam Tim Desa Batik Sehat mengembangkan alat pengolahan limbah. Kami rasa alat ini akan berperan penting. Sebab, selama ini belum ada sistem pengolahan limbah yang dimiliki oleh para pembatik. Mereka hanya menampung limbah-limbah dalam sumur penampungan. Bahayanya adalah apabila limbah tersebut merembes kemana-mana. Tentu sumur-sumur tetangga bisa ikut tercemar” jelasnya sebelum praktek simulasi alat portabel pengolah limbah batik di hadapan Bupati Kulon Progo beserta rombongan pada hari Rabu (22/1/2020) bertempat di rumah produksi Batik Farras, Sembungan Gulurejo Kapanewon Lendah.

Proses penelitian hingga menghasilkan produk alat dibiayai dana Corporate social responsibility (CSR) dalam hal ini Bank Mandiri. Dalam kesempatan tersebut, bantuan sebesar Rp. 336.755.100,- secara simbolis diserahkan oleh Linda Permatasari, Vice President PT Bank Mandiri Persero Tbk Area Yogyakarta.

Sistem kerja alat menggunakan reaksi elektro kimia yaitu reaksi yang  menggunakan elektron untuk reaksi kimia. Elektronnya berasal dari sumber listrik kemudian melalui suatu logam elektroda. Pada permukaan elektroda akan terjadi reaksi kimia berupa pemecahan molekul zat warna menjadi molekul-molekul yang tidak berbahaya.

“Untuk membantu mempercepat proses pemecahan molekul kita tambahkan menggunakan radiasi Ultra Violet (UV). Reaksinya membutuhkan waktu 30-60 menit. Setelah 1 jam, air yang keluar dapat dicek, sudah sesuai baku mutu atau belum” lanjutnya.

Dr Roto mengatakan penggunaan alat tersebut sudah tidak menghasilkan limbah lagi. Air hasil olahan dapat digunakan kembali dalam proses membatik. Rencana ke depan akan dikembangkan sehingga bisa digunakan untuk kegiatan pertanian seperti menyirami tanaman dan sebagainya. Sedangkan residu seperti halnya water glass yang berhasil diendapkan dan dipisahkan dapat digunakan untuk campuran semen atau paving.

Terkait kapasitas, Dr Fean Davisunjaya Sarian, rekannya satu tim menuturkan dalam sekali proses berkapasitas 50 L. Jika tiap hari pembatik rata-rata menghasilkan 250-300 L air limbah maka diperlukan 5-6 kali pemrosesan.

“Kapasitas alat masih bisa dikembangkan lagi sehingga bisa menampung lebih banyak. Modelnya pun didesain portabel sehingga fleksibel bisa mobile dari satu lokasi ke lokasi lain. Secara harga relatif terjangkau bagi kalangan pengusaha batik. Komponennya tahan banting sehingga mampu dipakai bertahun-tahun. Bahkan elektrodanya bisa digunakan hingga 20-an tahun” papar Fean yang juga peneliti Kochi University of Technology Japan menjelaskan kelebihan alat.

Bupati Kulon Progo Drs. H. Sutedjo menyambut gembira penemuan alat tersebut. Kerjasama yang baik antara pemerintah daerah, pihak swasta, dan perguruan tinggi layak ditingkatkan guna menemukan solusi agar pembatik dapat membatik secara sehat dan mengolah limbah dengan baik. Tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, namun kesehatan dan kelestarian lingkungan juga terjaga.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, kami mengucapkan terimakasih kepada Tim Desa Batik Sehat dari UGM yang telah peduli, berpartisipasi, dan berkontribusi melakukan pengabdian masyarakat. Serta telah berhasil mengembangkan dan memberikan pemahaman adanya teknologi yang dapat memberikan jaminan keamanan pada industri batik. Ternyata ada teknologi melalui sebuah alat yang bisa mengolah dari limbah kotor menjadi limbah bersih” tuturnya.

Bupati menilai keberadaan alat tersebut tentu sangat bermanfaat. Selaras dengan komitmen pemerintah daerah yang berkemauan agar industri batik di wilayah Kabupaten Kulon Progo termasuk sentra produksi yang ada di Kapanewon Lendah berkembang sebaik-baiknya.

“Harapannya lebih memberikan rasa safety kepada semua stake holder yang terlibat dalam produksi batik. Sisi pengaruh-pengaruh negatif dari proses produksi dan penyakit-penyakit yang mungkin timbul akan dapat ditekan seminimal mungkin” harapnya.

Menyinggung biaya untuk pengadaan alat, Bupati menyatakan jika satu pengrajin belum mampu menyediakan satu alat maka disarankan beberapa pengrajin dapat bekerja sama dalam hal biaya.

“Biayanya bisa dengan cara kompanyon. Lagi pula alatnya kan portabel. Satu alat bisa dipakai oleh lebih dari satu pengrajin. Bisa dipindah kemana-mana” saran Pak Bupati. (Warta DLH/Prd)