Respon Aduan Warga Terkait Limbah Batik, Petugas Laboratorium DLH Akhirnya Turun Gunung

LENDAH, dlh.kulonprogokab.go.id- Tindak lanjut atas aduan masyarakat perihal dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang bersumber dari kegiatan industri batik Banyu Sabrang yang berlokasi di Dusun Kasihan II Ngentakrejo Lendah, Petugas Laboratorium Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kulon Progo melakukan verifikasi lapangan dan pengambilan sampel. Dalam aduan disebutkan air limbah dari usaha industri batik tersebut diduga mencemari air sumur warga di sekitar lokasi kegiatan. Masyarakat pun merasa resah karena air sumur yang semula jernih menjadi berubah warna.

“Kami mendapatkan mandat untuk verifikasi langsung ke lokasi. Verifikasi kami lakukan pada Senin (13/1/2020) untuk mengecek kebenaran informasi terkait dengan keberadaan usaha industri batik Banyu Sabrang yang diduga sebagai sumber pencemar dan keberadaan sumur warga yang diduga tercemar“ kata Bhakti Panji Winata salah satu Petugas Lab DLH.

Panji menambahkan, selanjutnya juga telah dilakukan pengambilan sampel air sumur untuk keperluan uji laboratorium pada hari Kamis (16/1/2020-red) kemarin. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa ternyata air limbah timbul akibat kegiatan pewarnaan dan perebusan. Di lokasi tersebut belum ada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sehingga air limbah dibuang secara langsung ke lingkungan dengan cara diresapkan tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu. 

“Air limbah berwarna pekat masih tampak menggenang di lokasi pembuangan. Terlebih lagi di lokasi tersebut memungkinkan terjadi percampuran antara air limbah dengan air hujan. Sehingga tidak mengherankan jika penyebaran air limbah areanya meluas” ujar Panji saat ditemui Warta DLH hari Senin (20/1/2020).

Karena lingkungan di sekitar lokasi usaha kegiatan batik Banyu Sabrang merupakan kawasan permukiman warga, guna mengetahui dampak air limbah terhadap kualitas air sumur pihaknya melakukan pengambilan sampel. Sebanyak 3 titik sampel ditentukan untuk pengujian, yang pertama adalah outlet limbah batik dan 2 sumur warga dengan radius berbeda.

“Sumur warga yang paling parah terkena dampak adalah sumur di pekarangan Ibu Tumiyem. Sebab, berbatasan langsung dengan lokasi usaha kegiatan batik Banyu Sabrang. Secara visual, air sumur menjadi berwarna-warni sesuai air limbah yang dibuang” jelasnya.

Menurut rekan Panji, Umi Kurniasih yang menjabat Analis Laboratorium DLH Kulon Progo, pengujian di lapangan menggunakan Dissolved Oxygen (DO) meter, pH meter, termometer suhu, dan uji daya hantar listrik.

“Saat kemarin kami ambil sampel, secara kasat mata warna airnya keruh dan sangat berbau” kenang Umi.

Ia mengatakan guna penelitian kimiawi dengan berbagai parameter seperti Chemical Oxygen Demand (COD), Biochemical Oksigen Demand  (BOD), Total Disolved Solids (TDS), Total Suspended Solid (TSS) , Amonia Bebas, Fenol dan Sulfida, DLH Kabupaten Kulon Progo bekerja sama dengan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta, Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi DIY, dan Balai Besar Karet, Kulit, dan Plastik (BBKKP) Yogyakarta.

“Hasil uji laboratoriumnya akan keluar sekitar 3 minggu lagi. Jangan berspekulasi yang berlebihan sebelum ada hasil resmi dari lab” sarannya.

Ditanya apakah ada kendala baik pada saat verifikasi maupun pengambilan sampel, dengan lugas ia menjawab semua berjalan dengan baik dan lancar.

Alhamdulillah lancar. Kemarin dari pihak pengelola usaha kegiatan batik dan juga masyarakat sekitar lokasi mendukung ketugasan kami” pungkasnya. (Warta DLH/Prd)