80 Persen Petugas Berinisial S, Dalam Amanat Pembina Upacara Muncul Istilah Manusia Paripurna

WATES, dlh.kulonprogokab.go.id- Istilah ‘Manusia Paripurna’ mungkin masih belum familier di kalangan masyarakat awam. Meski belum popular, namun istilah tersebut ternyata mengandung makna mendalam.

Hal tersebut terungkap dalam amanat Presiden Republik Indonesia dalam Peringatan Hari Bela Negara yang di tahun 2019 ini telah mencapai Ke-71, semenjak Mr. Syafroedin Prawiranegara mendirikan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada tanggal 19 Desember 1948 di Bukittinggi. Mengawali amanat, Presiden mengajak untuk bersama-sama mencermati bahwa tantangan yang dihadapi bangsa dan negara Indonesia, semakin hari semakin berat dan beragam bentuknya. Sebagaimana yang telah diingatkan oleh Bung Karno, bahwa perang modern bukan sekadar perang militer, melainkan peperangan yang menyangkut seluruh aspek kehidupan masyarakat. Dengan demikian, tidak hanya militer yang berperan membangun ketahanan Indonesia, tapi juga menuntut peran seluruh komponen bangsa demi kelangsungan hidup dan keutuhan NKRI.

“Semakin beragamnya ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan yang dihadapi bangsa ini, hanya bisa kita hadapi dengan keberagaman keahlian yang saling terkait dan mengisi. Di sinilah terletak relevansi tekad kita untuk mewujudkan SDM Unggul demi kemajuan Indonesia yang kita canangkan sebagai tema peringatan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-74. Manusia Indonesia yang unggul adalah prasyarat utama untuk mengisi kemerdekaan sebagai modal dasar pembangunan kita di segala bidang. Kemerdekaan ini jualah yang menjadi pedoman bagi kita semua untuk melaksanakan bela negara" kata Ir. H. Joko Widodo Presiden Republik Indonesia dalam amanatnya sebagaimana dibacakan Drs. Agus Wiyono Raharjo selaku Inspektur Upacara pada Peringatan Ke-71 Hari Bela Negara hari Kamis (19/12/2019) bertempat di halaman kantor Inspektorat Daerah Kabupaten Kulon Progo.

Presiden menegaskan bahwa salah satu berkah yang telah mengantarkan kemerdekaan tanah air Indonesia adalah digalinya kembali Pancasila sebagai dasar negara, pandangan hidup bangsa, dan nilai dasar bela negara. Pancasila adalah visi final bangsa dan negara Indonesia yang menghendaki pembangunan manusia paripurna.

“Manusia paripurna tidak hanya memiliki kapasitas dan keterampilan yang tinggi untuk pemenuhan kebutuhan sendiri dan golongannya. Manusia paripurna mensyukuri berkah kebhinnekaan dan mensinergikan beragam kekuatan, siap menghadapi interaksi dan persaingan global yang semakin kompetitif, serta menginsyafi dirinya semata sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Inilah landasan prioritas bela negara untuk pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) Unggul yang diarahkan kepada perwujudan Manusia Indonesia Paripurna berdasarkan Pancasila” jelasnya

Sejalan dengan itu, pada tahun 2018 Presiden telah menginstruksikan pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Bela Negara di berbagai bidang dan tataran di seluruh Indonesia dengan melibatkan segenap jajaran Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah, serta berbagai elemen masyarakat sebagai wujud apresiasi atas berbagai keahlian manusia Indonesia. Aksi Nasional Bela Negara juga melengkapi keahlian SDM Indonesia dengan pengamalan nilai-nilai bela negara yang meliputi cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, kesetiaan dan keyakinan kepada Pancasila sebagai ideologi negara, kerelaan berkorban untuk bangsa dan negara, serta kemampuan awal bela negara dan semangat untuk mewujudkan negara yang berdaulat, adil dan makmur.

“Tanpa sikap dan perilaku bela negara, maka pengelolaan negeri kita yang besar dan luas dengan sumber daya alamnya yang melimpah, tak akan mencapai keadilan dan kemakmuran yang di cita-citakan oleh seluruh pendahulu bangsa. Maka jelaslah bahwa penanaman nilai-nilai dasar bela negara harus dilakukan secara terus menerus kepada seluruh komponen masyarakat dari beragam profesi tanpa memandang usia, suku, agama dan ras sebagai hak dan kewajiban tiap warga negara yang dijamin oleh undangundang. Ke depannya, kita semua mengharapkan agar Aksi Nasional Bela Negara di segenap gatra kehidupan nasional dapat semakin terstruktur, sistematif, dan massif, dengan prioritas dan implementasi yang terukur sesuai dengan persepsi dan aspirasi masyarakat seluas-luasnya. Dengan demikian, bagi yang berbakti dalam birokrasi pemerintahan, teruslah mereformasi diri serta meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pelayanan publik. Yang belajar dan mengajar, teruslah meningkatkan kearifan dan pengabdian masyarakat berbasis nilai-nilai kebangsaan kita. Yang mengabarkan berita, teruslah menjadi penerang informasi masyarakat secara jujur, berimbang, dan bertanggungjawab. Yang menjalankan usaha, tingkatkanlah terus daya saing secara sinergis dengan segenap tujuan negara. Demikian pula segenap masyarakat dengan beragam profesinya, jadikan bidang profesi masing-masing sebagai ladang bela negara” pesan Presiden di akhir amanatnya.

Adapun pelaksanaan Upacara Peringatan Ke-71 Hari Bela Negara yang dilaksanakan di halaman Kantor Irda Kulon Progo secara keseluruhan berlangsung dengan tertib dan lancar. Peserta upacara berasal dari 2 kalangan instansi yaitu Inspektorat Daerah dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kulon Progo. Drs. Agus Wiyono Raharjo bertindak selaku Inspektur Upacara. Komandan upacara oleh Sunarko, S.Sos.M.Si. Petugas Bendera yaitu Sarmo, Sulinah, dan Samingan. Pembaca Do’a adalah Sabar Waluya, SIP. R. Untoro Suwondo, SH sebagai Dirijen. Zuli Harnifah sebagai Pembawa acara, Sugito sebagai Pembaca UUD 1945, dan Ajudan oleh Hilman Subekti. (Warta DLH/Prd)