Lindungi Tanahku Untuk Anak Cucuku, Sebuah Pesan Moral

Tanah adalah salah satu komponen lahan, berupa lapisan teratas kerak bumi yang terdiri dari bahan mineral dan bahan organik serta mempunyai sifat fisik, kimia, biologi, dan mempunyai kemampuan menunjang kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya (PP No 150 tahun 2000). Tanah memiliki banyak fungsi dalam kehidupan. Di samping sebagai ruang hidup, tanah memiliki fungsi produksi, yaitu antara lain sebagai penghasil biomassa, seperti bahan makanan, serat, kayu, dan bahan obat-obatan. Selain itu, tanah juga berperan dalam menjaga kelestarian sumber daya air dan kelestarian lingkungan hidup secara umum.

Definisi Biomassa adalah tumbuhan atau bagian-bagiannya yaitu bunga, biji, buah, daun, ranting, batang dan akar termasuk tanaman yang dihasilkan oleh kegiatan pertanian, perkebunan dan hutan tanaman. Kriteria baku kerusakan  tanah untuk produksi biomassa adalah ukuran  batas perubahan sifat dasar tanah yang dapat ditenggang berkaitan dengan kegiatan produksi biomassa. Kerusakan tanah untuk produksi biomassa dapat terjadi karena tindakan orang seperti tindakan-tindakan pengelolaan tanah yang semena-mena, penggunaan pupuk kimia yang berlebihan, penggunaan pestisida maupun herbisida yang terus menerus dengan takaran yang melampaui batas baik di areal produksi biomassa maupun karena adanya kegiatan lain di luar areal produksi biomassa yang dapat berdampak terhadap terjadinya kerusakan tanah untuk produksi biomassa. Selain dari pada itu, kerusakan tanah dapat pula terjadi akibat proses alam.

Kriteria baku kerusakan tanah untuk produksi biomassa antara lain :

A.    Kriteria baku kerusakan tanah di lahan kering akibat erosi air

TEBAL TANAH

AMBANG KRITIS EROSI

METODE PENGUKURAN

PERALATAN

(1)

(2)

Ton/ha/tahun

Mm/10 tahun

< 20 cm

> 0,1 - < 1

> 0,2 - < 1,3

1.    Gravimetri

2.    Pengukuran langsung

1.    Timbangan, tabung ukur, penera debit (discharge) sungai dan peta daerah tangkapan air (catchment area)

2.    Patok erosi

20 - < 50 cm

1 - < 3

1,3 - < 4

50 - < 100 cm

3 - < 7

4,0 - < 9,0

100 - 150 cm

7 - 9

9,0 - 12

>150 cm

> 9

> 12

B.    Kriteria baku kerusakan tanah di lahan kering

PAREMETER

AMBANG KRITIS

METODE PENGUKURAN

PERALATAN

1

Ketebalan solum

< 20 cm

Pengukuran langsung

meteran

2

Kebatuan permukaan

>40%

Pengukuran langsung imbangan batu dan tanah dalam unit luasan

Meteran; counter (line atau total

3

Komposisi fraksi

<18% koloid; >80% pasir kuarsitik

Warna pasir, gravimetrik

Tabung ukur; timbangan

4

Berat isi

>1,4 gr/cm3

Gravimetri pada satuan volume

Lilin; tabung ukur; ring sampler; timbangan anlitik

5

Porositas total

<30%; >70%

Perhitungan berat isi (BI) dan berat jenis (BJ)

Piknometer; timbangan analitik

6

Derajat pelulusan air

<0,7 cm/jam; >8,0 cm/jam

permeabilitas

Ring sampler; double ring permeameter

pH (H2O) 1:2,5

<4,5 ; >8,5

potensiometrik

pH meter; pH stick skala 0,5

Daya Hantar Listrik

>4,0 mS/cm

Tahanan listrik

EC meter

9

Redoks

<200mV

Tegangan listrik

pH meter; elektroda platina

10

Jumlah mikroba

<102 cfu/g tanah

Plating technique

Cawan petri; colony counter

C.   Kriteria baku kerusakan tanah di lahan basah

NO

PARAMETER

AMBANG KRITIS

METODE PENGUKURAN

PERALATAN

1

Subsidensi gambut di atas pasir kuarsa

>35 cm/5 tahun untuk ketebalan gambut ≥ 3 m atau 10%/5 tahun untuk ketebalan gambut <3 m

Pengukuran langsung

Patok subsidensi

2

Kedalaman lapisan berpirit dari permukaan tanah

<25 cm dengan pH ≤ 2,5

Reaksi oksidasi dan pengukuran langsung

Cepuk plastic; H­2­2; pH stick skala 0,5 satuan; meter

3

Kedalaman air tanah dangkal

>25 cm

Pengukuran langsung

meteran

4

Redoks untuk tanah berpirit

>- 100 mV

Tegangan listrik

pH meter; elektroda platina

5

Redoks untuk gambut

>200 mV

Tegangan listrik

pH meter; elektroda platina

6

pH (H2O) 1:2,5

<4,5 ; >8,5

potensiometrik

pH meter; pH stick skala 0,5

7

Daya Hantar Listrik

>4,0 mS/cm

Tahanan listrik

EC meter

8

Jumlah mikroba

<102 cfu/g tanah

Plating technique

Cawan petri; colony counter

Pengendalian kerusakan tanah adalah upaya pencegahan dan penanggulangan kerusakan tanah serta pemulihan kondisi tanah. Kondisi tanah adalah sifat dasar tanah di tempat dan waktu tertentu yang menentukan mutu tanah. Pencegahan kerusakan tanah untuk produksi biomassa adalah upaya untuk mempertahankan kondisi tanah melalui cara-cara yang tidak  memberi peluang berlangsungnya proses kerusakan tanah.

Pencegahan kerusakan tanah untuk produksi biomassa dapat dilakukan dengan cara antara lain:

1.    Setiap usaha dan/atau kegiatan wajib menyesuaikan kegiatannya dengan peruntukan lahan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah Kabupaten/Kota;

2.    Setiap usaha dan/atau kegiatan yang diperkirakan menimbulkan dampak besar dan penting terhadap tanah untuk produksi biomassa wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL), untuk memperoleh izin melakukan usaha dan/atau kegiatan;

3.    Setiap usaha dan/atau kegiatan yang diperkirakan tidak menimbulkan dampak besar dan penting terhadap tanah untuk produksi biomassa wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan (UPL), untuk memperoleh izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. (Artikel DLH/Umi)