Sampah-Sampah Di Manunggal Fair, Tanggung Jawab Siapa?

PENGASIH, dlh.kulonprogokab.go.id- Bukan rahasia umum, gelaran event berskala besar (termasuk pameran-red) apalagi dalam kurun waktu lama akan berdampak pada meningkatnya volume timbulan sampah di lokasi tersebut. Tak jarang begitu event berakhir, justru menyisakan seabrek PR bagi para petugas kebersihan yang harus berjibaku demi mengembalikan kondisi seperti sedia kala. Kadang juga diiringi saling menyalahkan, sebenarnya kebersihan lokasi dari awal hingga akhir menjadi tanggung jawab siapa. Apakah panitia penyelenggara?, apakah penanggung jawab stand?, apakah para pengunjung?, ataukah mutlak jadi tanggungan para petugas kebersihan yang bekerja di lokasi tempat diselenggarakannya event?.  

Tanggap pameran pembangunan dan pasar malam Manunggal Fair 2019 berpotensi menghasilkan sampah bervolume besar, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kulon Progo sesuai tupoksinya menerbitkan Surat Himbuan. Surat bernomor 660/1358 Perihal Himbauan Kebersihan tertanggal 25 September 2019 telah diedarkan kepada masing-masing penanggung jawab stand Manunggal Fair 2019.

"Pameran Manunggal Fair yang dilaksanakan dari tanggal 27 September sampai dengan 6 Oktober 2019 merupakan rangkaian Peringatan Hari Jadi ke-68 Kabupaten Kulon Progo. Salah satu dampak dari kegiatan ini adalah meningkatnya timbulan sampah yang tidak dikelola secara benar" kata Arif Prastowo, S.Sos.,M.Si Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kulon Progo.

Sehubungan hal tersebut, pihaknya menghimbau kepada seluruh penanggung jawab stand Pameran Manunggal Fair 2019 agar senantiasa menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan.

"Salah satu yang dapat dilakukan adalah menyedekahkan atau menabung sampah yang laku jual seperti kertas, botol plastik, dan kaleng ke stand Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kulon Progo" imbuhnya.

Menanggapi secara terpisah, Sudaryono, salah satu penggiat lingkungan yang tergabung dalam komunitas Jejaring Pengelola Sampah Mandiri (JPSM) Merti Bawana Asri Kulon Progo mengatakan sebenarnya sampah merupakan masalah yang dari dulu menjadi sorotan publik, apalagi ketika ada event baik itu pameran pasar malam atau kegiatan lain yang menarik perhatian publik untuk berkumpul.

"Urusan sampah menjadi tangung jawab bersama baik dari panitia penyelenggara maupun masyarakat banyak. Kadang sampah kurang menjadi topik pembicaraan ketika event diadakan tetapi justru menjadi masalah ketika event itu selesai" ujarnya kepada Warta DLH.

Ia menambahkan kalau dari pihak penyelenggara mempunyai strategi untuk menanggulangi sampah dari awal event, mungkin selesai event sampah tidak banyak menimbulkan dampak. Hal yang bisa dilakukan, misalnya dengan menyediakan tempat sampah umum dalam jumlah banyak.

"Tak cukup itu saja, harus didukung dengan sering menghimbau melalui tulisan ataupun dengan pengeras suara agar pengunjung dan pengelola stand pameran pasar malam memiliki kesadaran untuk membuang sampah pada tempat yang telah disediakan" tandasnya.

Sudar pun mengungkapkan sebagai bentuk kepeduliannya terhadap kebersihan lingkungan, JPSM sendiri berencana mengadakan gropyok sampah di area pameran dan pasar malam, dengan melibatkan anggota JPSM, Bank Sampah dan Saka Kalpataru serta elemen masyarakat lainnya.

"Waktu pelaksanaannya belum kami tentukan. Tentu membutuhkan koordinasi yang matang dengan pihak-pihak terkait" pungkasnya. (Warta DLH/Prd)