Road to Pengolahan Emas Bebas Merkuri di Kulon Progo, Masyarakat Sejahtera Alam Terjaga

WATES, dlh.kulonprogokab.go.id- Kulon Progo, sebuah kabupaten yang berada di ujung barat Daerah Istimewa Yogyakarta geliat pertumbuhan ekonominya kian terasa. Dari segi usaha pertambangan, mungkin belum banyak yang tahu jika Bumi Binangun juga mempunyai potensi tambang emas. Memang potensinya tidak sebesar di Tembagapura Papua, namun dibanding wilayah lain di DIY, tambang emas di Kulon Progo boleh dibilang sangat lumayan.

Sebenarnya, penambangan emas di Kulon Progo (utamanya daerah Kokap) sudah berlangsung sejak lama, meski dalam skala kecil. Satu hal yang agak disayangkan ialah dalam pengolahannya menggunakan merkuri. Padahal, merkuri merupakan bahan kimia beracun persistent, bioaccumulation dan termasuk global pollutant sehingga berdampak buruk bagi kesehatan maupun lingkungan.

Pemerintah Indonesia melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menjalin kerjasama dengan United Nation Development Programme (UNDP) dalam proyek Global Opportunities for Long-term Development of Artisanal and Small Scale Gold Mining (ASGM) Sector: Integrated Sound Management of Mercury in Indonesia ASGM Project (GOLD-ISMIA). Tujuan program tersebut untuk mengurangi dan menghapuskan penggunaan merkuri di Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK). Salah satu upaya yang dilakukan dengan mendukung perizinan Pilot Plant Pengolahan Emas Bebas Merkuri dan Pengolahan Limbahnya yang dibangun oleh BPPT di Desa Kalirejo Kecamatan Kokap.

Pada tahun 2017, BPPT menginisiasi adanya alat pengolahan emas tanpa merkuri di Desa Kalirejo Kokap. Selain Kalirejo, wilayah lain yang berpotensi untuk penambangan emas adalah Desa Hargorejo. Planning yang akan dilakukan adalah pelatihan cara pengolahan emas tanpa merkuri untuk masyarakat.

Serangkaian koordinasi telah dilaksanakan dan melibatkan berbagai pihak. Salah satunya rapat konsolidasi pada hari Kamis (12/9/2019) bertempat di Wisma Kusuma Hotel. Hadir dalam acara tersebut sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait baik dari DIY maupun Kulon Progo, PMU GOLD-ISMIA KLHK dan UNDP serta pemerintah desa setempat. Arif Prastowo, S.Sos.,M.Si Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kulon Progo mengemukakan beberapa pokok pikiran sebagai bahan diskusi.

"Nantinya bentuk badan usaha yang mengelola seperti apa?, siapa yang melakukan penambangan dan pengolahan?, cara penambangan seperti apa?" tuturnya menyampaikan pengantar.

Menurut Arif, penting dibahas juga mengenai legalitas kebijakan penambangan dan penyiapan dokumen perizinan serta dokumen izin lingkungan. Karena wilayah penambangan di Hargorejo adalah tanah kas desa, maka penggunaan lahan perlu mengajukan izin kepada Gubernur DIY.

Gusman Yusuf, Analis Pertambangan DPUP-ESDM DIY mengemukakan bahwa proses perizinan pertambangan dapat berbentuk Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP). Hal ini mengacu pada beberapa Peraturan Menteri ESDM, yakni Permen ESDM Nomor 11 Tahun 2018, Permen ESDM Nomor 22 Tahun 2018, dan Permen ESDM Nomor 51 Tahun 2018. Pemrakarsa penambangannya bisa berupa BUMN, BUMD, atau Badan Usaha Swasta.

Output yang diharapkan dari pencanangan program diantaranya, membantu pengurusan kebijakan terkait kegiatan penambangan emas, membantu sistem keuangan untuk mendukung kegiatan penambangan, peningkatan kapasitas teknis dan dukungan teknologi untuk kegiatan penambangan dan pengolahan emas, serta timbulnya kesadaran masyarakat akan dampak merkuri, demikian disampaikan Ibu Jatu dari Project Management Unit (PMU) GOLD-ISMIA UNDP.

Berdasarkan hasil identifikasi terhadap permasalahan yang ada, maka diperlukan konsolidasi dan koordinasi lanjutan di waktu mendatang. Khususnya, pembahasan mengenai kajian dasar badan usaha sesuai dengan peraturan yang berlaku dan kajian lebih lanjut terkait limbah hasil pengolahan emas tanpa merkuri, dimana rekomendasi dari Balai Besar Wilayah Sungai (BWWS) tidak direkomendasikan dibuang ke badan air. (Warta DLH/Prd)

Berita terkait :

https://dlh.kulonprogokab.go.id/article-422-kunjungan-kerja-tim-gef-dan-undp-mantapkan-pilot-project-olah-emas-tanpa-merkuri-di-kulon-progo.html