Wujudkan Simbiosis Mutualisme, RAPEL Ingin Gaet BUMDES dan Bank Sampah Kulon Progo

Wates- RAPEL (Aplikasi Jual Sampah Online-red) berencana menggandeng Badan Usaha dan Bank Sampah di Kulon Progo untuk mengembangkan kerjasama yang saling menguntungkan. Keinginan ini disampaikan Sekti Mulatsih salah satu pengurus saat memperkenalkan RAPEL kepada pengelola BUMDES dan Bank Sampah bertempat di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kulon Progo hari Selasa (28/5). Hadir sebagai peserta sosialisasi, sejumlah Pejabat Struktural DLH, Jajaran Pengurus RAPEL, Direksi Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) beserta Perangkat Desa dari Desa Banguncipto Sentolo dan Desa Gulurejo Lendah serta Dirut Bank Sampah Induk Dhuawar Sejahtera Kroco Sendangsari.

Lebih lanjut, Sekti mengemukakan bahwa badan usaha yang dimaksud dapat berupa Bank Sampah Induk, BUMDES, BUMD, Koperasi, UD, dan sejenisnya. Dikarenakan harga per jenis sampah fluktuatif, nantinya harga beli sampah dari pengepul (baik BUMDES maupun Bank Sampah-red) harus sesuai dengan harga yang ditetapkan oleh RAPEL mengikuti harga aplikasi dan harga terbaru.

"Jika disepakati, akan ada Memorandum of Understanding (MoU) dengan RAPEL terkait mekanisme kerjasama dan benefit yang akan didapatkan. Keuntungan yang diperoleh diantaranya: margin harga sampah di aplikasi dengan harga jual sampah menjadi milik kolektor semua dan ada bonus untuk setiap transaksi" jelasnya.

Menanggapi hal tersebut, Yuis Warsono Pengurus BUMDES Gulurejo menyatakan perlu koordinasi secara mendalam mengenai kerjasama yang ditawarkan RAPEL. Pihaknya mengakui unit bank sampah di BUMDES Gulurejo bukan unit usaha utama, melainkan unit pengembangan.

"Kondisi idealnya RAPEL kan melayani user 24 jam, jika ini merupakan sebuah keharusan, terus terang kita belum siap. Tentu kita tidak menginginkan kegiatan BUMDES termasuk unit usaha keuangan menjadi terganggu dengan adanya keberadaan bank sampah. Kita mengusulkan bagaimana pengambilan sampah hanya dilakukan 2 kali saja dalam seminggu dengan melibatkan petugas khusus yang menanganinya" ungkapnya.

Sementara, Taufiq Amrullah, S.T.,MM Sekretaris DLH Kulon Progo mengatakan RAPEL ibarat aplikasi ojek online. Beberapa tahun yang lalu ojek online belum setenar sekarang. Namun, kenyataannya dewasa ini pertumbuhannya sangat pesat. Pelanggan pun menjadi lebih diuntungkan karena sistem pelayanan yang lebih bagus. "Hal ini hendaknya dapat dicontoh oleh RAPEL. Libatkan BUMDES dan Bank Sampah secara optimal. Misalnya, Bank Sampah dapat berperan sebagai kolektor, sedangkan Bank Sampah Induk sebagai pengepul" katanya.

Bagaimanapun bentuk kerjasama yang akan dijalin, intinya harus selaras dengan upaya agar pengelolaan sampah di Kabupaten Kulon Progo menjadi lebih efektif. Disadari maupun tidak, imbas peningkatan jumlah penduduk, persoalan sampah bisa menjadi "bom waktu". (prd)