Upacara Tribuana Manggala Bhakti, Implementasikan Konsep Pelestarian Alam, Wisata, dan Religi

Girimulyo- Kulon Progo sebagai kabupaten yang menjunjung nilai-nilai toleransi, menjamin kebebasan pemeluk agama dalam menjalankan kegiatan keagamaannya sesuai norma dan tatanan yang berlaku. Tak mengherankan jika persaudaraan intern dan antar umat beragama di wilayah ini terjaga dengan baik. Salah satunya tercermin pada pelaksanaan Upacara Tribuana Manggala Bhakti hari Minggu 28 April 2019. Bertempat di kawasan Ekowisata Taman Sungai Mudal, upacara ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Waisak Tahun 2019. Mengangkat tema "Lestari Alamku, Damai Jiwaku", kegiatan utamanya berupa penanaman pohon, pelepasan satwa, dan pelestarian mata air. Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Kulon Progo, Utusan Kementerian Pariwisata RI, Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kulon Progo, Camat Girimulyo dan Muspika, Kepala Desa Jatimulyo, Sangha Budha, Warga Gunungkelir-Sonya-Sokamoyo-Branti serta tamu undangan lainnya.

Bupati Kulon Progo dalam sambutannya yang dibacakan oleh Drs. H. Sutedjo Wakil Bupati Kulon Progo, menyampaikan bahwa Upacara Tribuana Manggala Bhakti merupakan bentuk nyata keterlibatan umat Budha dan masyarakat dalam pelestarian lingkungan alam serta ungkapan syukur terhadap Tuhan yang Maha Kuasa. Penanaman pohon penyangga mata air, pohon Bodhi, pohon manggis, pohon sengon, pohon petai, dan pohon-pohon lainnya merupakan sarana edukasi pelestarian Bumi. Sedangkan, pelepasan satwa endemik adalah ekspresi pelestarian satwa. Kesemuanya sebagai wujud penghargaan terhadap alam.

"Apresiasi perlu diberikan kepada Pemerintah Desa Jatimulyo yang melindungi dan menjaga kelestarian alam dalam bentuk perdes perlindungan lingkungan hidup. Jika kita tidak bisa merawat alam, alam akan marah dan memicu bencana. Alam diciptakan untuk diolah bukan diperah" kata Sutedjo.

Senada, Bikhu Samanera dalam sambutannya memaparkan peringatan Hari Tri Suci Waisak Tahun 2019 dilandasi dengan kasih sayang dan kepedulian terhadap alam. Penanaman pohon, pelepasan satwa dan pelestarian mata air adalah bukti nyata pengabdian kepada lingkungan. Dengan merawat tanaman dan hutan akan mendatangkan kebahagiaan seorang pada masa sekarang dan masa yang akan datang. Ketidakseimbangan  dan kerusakan lingkungan hidup merupakan akibat keserakahan manusia.

Sementara Dra. Oneng Setya Harini, MM Asisten Deputi Pengembangan Seni Budaya Kementerian Pariwisata RI menuturkan keragaman budaya dan agama menjadi kekuatan pengembangan wisata, sebab terkandung 4 aspek, yakni potensi wisata, atraksi wisata, amenitas, dan aksesibilitas. Event ini menjadi poin besar dan memiliki nilai jual tinggi dengan melibatkan pelaku industri wisata.

"Hal pokok dalam pengembangan pariwisata adalah pengembangan sumber daya manusia. Masyarakat harus disiapkan karena perannya sangat penting. Dengan peningkatan SDM, warga akan bisa mengimplementasikan unsur Sapta Pesona secara benar. Jika kegiatan pariwisatanya maju dan berkembang maka ekonomi dan kesejahteraan masyarakat juga akan meningkat" tuturnya.

Usai acara sambutan, dilanjutkan dengan penanaman pohon bodhi, penebaran benih ikan di Sungai Mudal, serta pelepasan burung ke alam bebas oleh Wakil Bupati Kulon Progo. Hal ini sebagai simbol penyelamatan lingkungan. Keberlangsungan hidup pohon, ikan, dan burung yang dilepas menjadi tanggung jawab bersama agar terhindar dari upaya pemalakan dan perburuan liar. (prd)