Kolaborasi dengan BLK, JPSM Kulon Progo Latih Cara Upgrade Sampah Jadi Barang “Wah”

Sentolo- Sampah menjadi barang bernilai ekonomi bukan suatu hal yang mustahil lagi. Namun sayangnya, belum seluruh masyarakat mengetahui hal ini. Dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat mengolah sampah, UPT Balai Latihan Kerja Disnakertrans Kabupaten Kulon Progo bekerjasama dengan Jejaring Pengelola Sampah Mandiri (JPSM) Merti Bawana Asri Kulon Progo mengadakan pelatihan berbasis kompetensi.

Bertajuk pembuatan souvenir dari barang bekas dan limbah, pelatihan dilakukan di Bank Sampah Bunda Mandiri Dusun Banyunganti Kidul Desa Kaliagung Sentolo. Peserta pelatihan sebanyak 16 orang ibu-ibu meliputi perwakilan dari tiap dusun se-desa Kaliagung, dengan waktu pelatihan selama 20 hari berakhir pada 25 April 2019. Materi pelatihan difokuskan pada pembuatan beraneka ragam souvenir dari barang bekas/ limbah, antaralain dompet dari plastik bekas, mangkok dari tempurung kelapa, dan pot gantung dari sabut kelapa. Di samping itu, dipraktekkan pula cara membuat pupuk cair berbahan dasar akar bambu dan gedebog pisang.

Dihubungi Tim Warta DLH, menurut Eko Wisnu Wardhana, SE Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kulon Progo, UPT BLK mengadakan pelatihan keterampilan pembuatan souvenir bagi ibu-ibu rumah tangga di wilayah desa Kaliagung dilatarbelakangi prinsip pembangunan ketenagakerjaan yakni bagaimana mengusahakan yang belum bekerja/ berpenghasilan menjadi bisa bekerja/ berpenghasilan baik di sektor formal maupun informal dan mengusahakan bagaimana yang belum kompeten menjadi kompeten. “Warga melalui ibu-ibu akan menumbuhkan kepedulian bagi keluarganya untuk tidak membuang sampah sembarangan, melainkan bisa disetorkan ke bank sampah, atau bisa langsung dibuat souvenir karena sudah mendapatkan pelatihan” ungkapnya.

Sementara Arif Prastowo, S.Sos, M.Si Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kulon Progo menyatakan kegiatan tersebut merupakan media nyata pengelolaan dan penanganan sampah yang ada di lingkungan masyarakat. Melalui pelatihan berbasis kompetensi, masyarakat tidak hanya diberikan pemahaman cara memilah sampah yang baik dan benar, namun dibekali dengan keterampilan membuat kerajinan dari sampah menjadi barang bernilai ekonomi dan layak jual.

“JPSM Merti Bawana Asri sebagai mitra binaan DLH Kulon Progo, telah berupaya sosialisasi pengolahan sampah kepada masyarakat dalam bentuk pelatihan ke desa. Kegiatan serupa belum lama ini juga diselenggarakan di Pokdarwis Kalibiru. Kami berharap desa-desa yang lain dapat mereplikasi sehingga penanganan sampah di Kabupaten Kulon Progo akan lebih optimal” papar Arif usai kunjungan ke lokasi pelatihan bersama Kepala Disnakertrans hari Kamis (11/4).

Senada Rita Kusmiyati, S.Si Kepala Seksi Pelestarian Lingkungan dan Peningkatan Kapasitas Bidang Tata Lingkungan DLH Kulon Progo menilai kegiatan pelatihan pembuatan produk kerajinan dari sampah bagus untuk terus digalakkan. Jika kesadaran masyarakat dalam mendaur ulang dan mendayagunakan ulang sampah sudah baik, tentu akan mengurangi jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Banyuroto. “Saya berharap kegiatannya bisa berlanjut ke wilayah desa lainnya. Produk kerajinannya pun lebih dikembangkan dan variatif sehingga nilai ekonominya tinggi” ujarnya.

Memilah dan mengolah sampah memang belum menjadi trend budaya di kalangan masyarakat. Di saat masih ada yang memandang sampah sebelah mata dan membuang sampah tidak pada tempatnya, upaya meng-upgrade sampah kategori layak daur ulang dan guna ulang menjadi barang “wah” patut untuk dihargai dan dicontoh. Melalui tangan-tangan kreatif dan inovatif, produk kerajinan berbahan baku sampah akan menumbuhkan home industry yang dengan sendirinya memperluas lapangan pekerjaan. (prd)